Ibarat petir di Siang Bolong Mendiknas Bambang Sudibyo mengeluarkan Peraturan Menteri No. 2 Tahun 2008 tentang pelarangan menjual buku pelajaran di Sekolah, bagi kami keluarga besar Penerbit Swasta di Tanah air yang bergerak dalam bidang penjualan buku pelajaran peraturan tersebut ibarat suntikan maut seorang Menteri yang akan membunuh secara perlahan tapi pasti Ribuan orang yang selama ini menggantungkan hidupnya dari Buku pelajaran tersebut. Bagaimana tidak dengan pelarangan tersebut kami ibarat kena skak mat dari yang terhormat Mr. Bambang Sudibyo seorang menteri hebat yang penuh kejutan dengan peraturan menterinya dengan tanpa mempedulikan akibat yang akan ditimbulkan dari peraturan tersebut dan inilah ciri khas kebijakan pejabat di Negeri ini yang tak pernah mengenal lebih jauh akar rumput.
Kebijakan Menteri pendidikan tersebut dikarenakan cara pandang yang sedikit keliru tentang penerbit yang selama ini dituding mendapatkan keuntungan dari pergantian buku, membuat buku tidak bisa digunakan lagi oleh adik dari siswa tersebut, akan tetapi sesungguhnya Penerbit juga termasuk salah satu yang dirugikan dalam hal ini kenapa bisa terjadi ?, sudah menjadi rahasia umum di Negara kita ini setiap ganti pemerintahan ganti kebijakan demikian juga ketika ada pergantian kabinet juga ada pergantian peraturan termasuk juga didalamnya pergantian kurikulum, sebenarnya dari sinilah asal muasalnya, padahal ketika kurikulum itu terjadi perubahan kerugian penerbit sebenarnya tidak terhitung karena banyaknya buku yang telah terlanjur di cetak yang tidak bisa lagi dijual massal dan pada akhirnya terjadi pencincangan atau penghapusan buku yang tidak laku tersebut.
Ironisnya yang menjadi kambing hitam justru malah penerbit itu sendiri, karena masyarakat menganggap ketika ada pergantian kurikulum pasti ada pergantian buku dan penerbitlah yang diuntungkan padahal yang terjadi penerbit hanyalah mengikuti sebuah kebijakan Menteri dan bermaksud membantu para praktisi pendidikan dalam menjalankan proses belajar mengajar. Untuk itu kami semua keluarga Penerbit Buku pelajaran tidak bisa memprediksi hingga sampai kapan sebenarnya kami bisa bertahan dengan situasi dan kondisi seperti ini, hal semacam ini diperparah oleh kebijakan Pemerintah Daerah dengan menggembar-gemborkan dalam kampanyenya tentang pendidikan gratis, kami semua hanya bisa berharap dan berdoa semoga secepatnya terjadi pergantian Pemerintahan dan pergantian menteri Pendidikan yang bisa membawa angin perubahan yang lebih baik dan tidak merugikan satu pihak dengan menguntungkan pihak yang lain.
Sesuatu yang telah terjadi rasanya tak perlu disesali, sebagai manusia kita harus mampu mengubah tantangan menjadi peluang dan peluang menjadi sebuah keuntungan dan hanya itulah yang bisa membuat kita tetap semangat dalam menjalani segala tantangan dalam hidup ini karena di balik musibah pastilah ada hikmah. Kita semua tidak akan pernah menyangka kalau sebenarnya raksasa seluler seperti Nokia adalah dulunya bergerak dalam industri kertas, karena sesuatu dan lain hal mereka banting setir dan akhirnya menjadi penguasa pasar seperti saat ini, dan itulah kenyataan hidup yang kita semua tidak pernah akan tahu sebelumnya.
Ironisnya yang menjadi kambing hitam justru malah penerbit itu sendiri, karena masyarakat menganggap ketika ada pergantian kurikulum pasti ada pergantian buku dan penerbitlah yang diuntungkan padahal yang terjadi penerbit hanyalah mengikuti sebuah kebijakan Menteri dan bermaksud membantu para praktisi pendidikan dalam menjalankan proses belajar mengajar. Untuk itu kami semua keluarga Penerbit Buku pelajaran tidak bisa memprediksi hingga sampai kapan sebenarnya kami bisa bertahan dengan situasi dan kondisi seperti ini, hal semacam ini diperparah oleh kebijakan Pemerintah Daerah dengan menggembar-gemborkan dalam kampanyenya tentang pendidikan gratis, kami semua hanya bisa berharap dan berdoa semoga secepatnya terjadi pergantian Pemerintahan dan pergantian menteri Pendidikan yang bisa membawa angin perubahan yang lebih baik dan tidak merugikan satu pihak dengan menguntungkan pihak yang lain.
Sesuatu yang telah terjadi rasanya tak perlu disesali, sebagai manusia kita harus mampu mengubah tantangan menjadi peluang dan peluang menjadi sebuah keuntungan dan hanya itulah yang bisa membuat kita tetap semangat dalam menjalani segala tantangan dalam hidup ini karena di balik musibah pastilah ada hikmah. Kita semua tidak akan pernah menyangka kalau sebenarnya raksasa seluler seperti Nokia adalah dulunya bergerak dalam industri kertas, karena sesuatu dan lain hal mereka banting setir dan akhirnya menjadi penguasa pasar seperti saat ini, dan itulah kenyataan hidup yang kita semua tidak pernah akan tahu sebelumnya.


